MELINTAS BATAS;TAN MALAKA DAN JIWANYA
Juni 11, 2010
Oleh
Qalbi Nur Nawawi [1]
ABSTRACT
“Akuilah dengan putih bersih bahwa kamu (orang Indonesia) sanggup dan mesti belajar dari Barat, tapi kamu jangan jadi peniru Barat, melainkan sekarang murid dari Timur yang cerdas … juga jangan dilupakan bahwa kamu belum seorang murid, bahkan manusia, bila kamu tidak ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri … seseorang yang ingin jadi murid Barat atau manusia, hendaknya ingin merdeka dengan memiliki senjata Barat yang rasional”. (Tan Malaka dalam Madilog)
PENDAHULUAN
Petikan pernyataan diatas merupakan satu pesan Tan Malaka yang ia amanatkan lewat pemikiran Madilognya.dimana,jika setiap kita bisa menghayati pesannya,kau akan merasakan bagaiamana pesan itu melintasi batas ruang dan waktu hingga tak sadar pesan itu masih mempunyai relevansi sampai saat ini. Yang seolah olah lewat pernyataan diatas,ia membisikkan di setiap telinga kiri kita yakni ”sahabatku,jadilah manusia Indonesia yang cerdas, kritis dan berani untuk belajar menerima pengetahuan-pengetahuan Barat yang mengandalkan logika.tetapi ingat, jangan sampai kita terpengaruh atau terpedaya oleh pemikiran yang luar biasa besar pengaruhnya hingga kita kehilangan jati diri pemikiran kita yang rasional,sesuai realita yang ada di masyarakat kita”.begitulah pesannya,satu hal yang membuat Tan Malaka menjadi sosok yang legendaris.
Tan Malaka jika dilihat dari riwayatnya sebagai seorang pemikir,Tan Malaka adalah seorang pemikir hebat yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. dikenal sebagai tokoh yang paling misterius disepanjang sejarah Indonesia dan juga revolusioner. Banyak kegiatan politiknya, di dalam dan luar negeri, hanya diketahui secara samar.
Tetapi disini, Terkait dengan penjelasan diatas.pada kajian ini, pendalaman kajian bukanlah memahami bagaimana perkembangan pemikiran atau sejarah pemikiran Tan Malaka tetapi disini ialah mencoba mendalami dan menghayati sosok Tan Malaka dari sisi kejiwaannya lewat disiplin ilmu psikologi hingga membentuk cara berfikirnya yang khas itu,lebih dalam lagi mentalitas-karakternya.walau kedua hal tersebut,antara pemikiran dan mentalitas tidak bisa dipisah kan begitu saja. sebagaimana menyadur kata Mrazek, bahwa struktur pengalaman memberikan visi tertentu bagi seseorang tentang bagaiamana melihat dan mengartikan apa apa yang berlaku. Jadi semakin jelaslah bahwa bentuk bentuk atau kepingan kepingan dari struktur pengalaman itulah ingin coba dirangkai,dibentuk disini hingga menggambarkan sesuatu yang khas dari karakter Tan Malaka.
dan hal tersebut akan coba dikaji dengan pendekatan Narativisme,suatu pengkajian sejarah dengan menafsirkan masa silam dengan menunjukan keberkaitan dalam suatu materi (bahasa) yang semula kelihatan tidak koheren dan tanpa struktur hingga terlukiskan sifat sifat yang khas bagi suatu kurun waktu tertentu(ankersmith:225).jadi bisa kita ambil sedikit gambaran bahwa dalam kajian ini,bukan semata mata untuk mencoba berusaha berkhayal,mendikte ataupun memberikan a judgement tertentu untuk menggambarkan kejiwaan Tan Malaka tetapi bagaimana disini,kita ingin memahami guna bisa menghayati bagaimana kejiwaan Tan Malaka yang legendaris itu sebagai bahan refleksi pemuda pemuda indonesia.
Dan untuk mengetahui dan memahami hal tersebut kita harus memahami adat Minangkabau itu sendiri seperti nilai,norma dll.disini,memahami nilai-nilai dasar adat Minangkabau adalah tantangan tersendiri dalam hal ini karena memang tak mudah.meskipun begitu,tentunya terdapat berbagai cara dapat memahami hal tersebut, antara lain dengan mempelajari tentang masyarakat dan lingkungan atau dengan mempelajari perilaku mereka. Terlebih dahulu mereka mempelajari kata-kata (kato), dari sini akan dapat diungkapkan nilai-nilai dasar dan norma-norma yang menjadi penuntun orang Minangkabau berfikir dan bertingkah laku. Dengan kata lain perkataan pola berfikir dan prilaku orang Minangkabau, ditentukan oleh “kato” sebagai nilai dasar norma-norma yang menjadi pegangan hidup mereka, katakanlah falsafah hidup, yang menyangkut makna hidup, makna waktu, makna alam bagi kehidupan, makna kerja bagi kehidupan dan makna individu dalam hubungan kemasyarakatan.
Bertitik tolak dari pemikiran di atas, kata-kata (kato) seperti yang terkandung dan terungkap dalam prinsip-prinsip dasar atau rumusan-rumusan kebenaran, pepatah, petitih, pituah, mamangan dan lain-lain ekspedisi simbolik tentang diri mereka dalam hubungan dengan alam, dengan lingkungan sosial budaya, merupakan media yang dapat dipakai dalam mengetahui dan memahami nilai-nilai yang dominan yang dianut mereka. Dikatakan “manusia tahan kato (kias) binatang tahan palu (cambuk). Jadi merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal, kita bisa memahami bentuk karakter yang khas yang ada dalam diri Tan Malaka.dimana,kebiasaan dari individu dan masyarakat (custome) dapat membentuk tatanan kelakuan (behaviour) kemudian menjadi budaya (culture).[2]dalam hal ini ialah Tan Malaka dengan adat Minangkabau-nya. Dan disini pembahasan kali hanya berkisar pada ‘kata’,’pepatah’,’petuah’ yang substansial saja,khususnya bagi Tan Malaka.
Dan sebagai formula untuk memetakan bagaimana sisi kejiwaan Tan Malaka,dibawah ini adalah sebuah konsepsi dimana sebelum kita masuk pada sebuah bentuk eksistensi diri dan cara berfikir yang khas pada diri Tan Malaka yang kita harus paham ketiga konsep ini,yakni sbb:
1) Segenap kualitas herediter (warisan sejak lahir,bawaan)
2) Pengalaman masa lampau dan masa sekarang dalam suatu lingkungan sosial tertentu dan sebagai produk proses belajar secara kontinu.
3) Oleh ideal dan tujuan yang ingin di capainya.[3]
Ditambah ,memahami konsep pembentukan karakter ialah karakter terutama dalam perkembangan otak yang berimbas pada pola berfikir seseorang itu ternyata dibentuk 50% pada masa umur 4 tahun dan bertambah menjadi 80% pada umur 8 tahun serta baru merangkak mencapai kesempurnaan hingga ia berumur 18 tahun[4].
Maka pesan utama yang menjadi benang merah yang ingin digambarkan ialah jika kita bisa memahami sosok Tan Malaka dari tiga konsepsi itu secara simultan dan merujuk juga pada konsep ’pembentukan karakter’ diatas jadi tak berlebihan rasanya jika kita bisa menggambarkan sosok Tan Malaka secara keseluruhan lewat sisi kejiwaannya.
Setelah membaca penjelasan diatas.jelas,kajian ini akan mengarah pada ’apa yang terjadi’ dan ’bagaimana terjadi’ pembentukan cara berfikirnya,lebih dalam lagi mentalitas-karakternya.Lebih khusus,dijelaskan lewat bentuk dengan dua pertanyaan pokok yang hendak dijawab,walaupun tidak mendalam,yakni sbb:
1) Apa konteks psikis-historis yang melatarbelakangi terbentuknya karakter Tan Malaka sampai pada umur 20 tahun (1896-1911),merujuk pada konsep ’pembentukan karakter’ diatas +analisis?
2) Pengalaman atau warisan apa yang bisa diambil dari proses pembentukan karakter kejiwaan Tan Malaka?
PEMBAHASAN
Adalah Kata-kata Adat
“Hiduik Bajaso, Mati Bapusako” (hidup berjasa, mati berpusaka)”,Petikan kutipan itu,merupakan tujuan umum bagaimana seorang anak minang menjalani hidupnya,yakni untuk berjasa.hal ini selalu ditanamkan anak anak minang dari kecil hingga memahami benar tujuan dari nilai nilai adatnya yakni membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya, manusia yang beradab dan bermanfaat.Dari manusia-manusia yang beradab itu diharapkan akan melahirkan suatu masyarakat yang aman dan damai, sehingga memungkinkan suatu kehidupan yang sejahtera dan bahagia, dunia dan akhirat.
kemudian,dengan pepatah ”Hiduik Baraka, baukue jo bajangka artinya hidup berpikir, berukur dan berjangka”.dimana,dalam menjalankan hidup dan kehidupan orang Minang dituntut untuk selalu memakai akalnya. Berukur dan berjangka artinya harus mempunyai rencana yang jelas dan perkiraan yang tepat.ditambah ,dengan struktur sosial Minangkabau memberi tanggungjawab yang berat kepada orang laki-laki Minangkabau, sehingga mendorong lebih lanjut untuk berusaha memenuhi tuntutan agar berjasa kepada kerabat dan kampung halamannya.kemudian,dengan apa semua itu dipenuhi,adat minangkabau menjelaskan semua itu dengan merantau.
Merantau,akibat merantau bagi orang minangkabau yang meninggalkan kampung halaman,adalah proses meluaskan cakrawala atau pandangannya untuk mengenal daerah diluar Minangkabau, seperti di katakan “tidak seperti katak di bawah tempurung”. Akibatnya orang minangkabau tidak berpaham sempit dalam hubungan sosial dengan lain suku bangsa. Hasil perantauan pada masa dahulu dibawa pulang untuk menjadi modal dalam membina kecerdasan dan kesejahteraan keluarga,begitulah nilai nilai adat minang menjelaskan.
Setelah membaca penjelasan diatas.jadi,itulah gambaran umum yang merupakan bagaimana orang minang mengajarkan budi pekerti sejak kecil. Tentunya,jika kita coba kaitkan dengan Tan Malaka,hal ini juga dirasakan dengan Tan Malaka sebagai anak minang yang pada saat terbilang cukup cerdas akan pemahaman kata kata adat bagi dirinya hingga mendarah daging bagi dirinya.
Psikologi modern saat ini sepakat bahwa faktor bawaan dan lingkungan mempunyai pengaruh yang sama besarnya pada perkembangan individu,dimana perkembangan adalah transaksi antara diri individu dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya[5].kemudian,jika kita merujuk pada konsepsi ’pembentukan karakter’ yakni perkembangan otak yang berimbas atau mempengaruhi pada cara pola berfikir seseorang itu ternyata dibentuk 50% pada masa umur 4-7 tahun dengan isi pengalaman yang diserap ialah segenap kualitas herediter (warisan sejak lahir,bawaan) yang ia dapati dari ranah informal.jadi kita bisa membayangkan bagaiamana kehidupan kejiwaan Tan Malaka pada saat ‘kecil’ dulu,dimana ia selalu diberi asupan asupan gizi mengenai nilai nilai adat minang yang kental religiusitasnya dan juga suntikan dosis tinggi mengenai pandangan hidup bagi seorang anak minang.
“Dan dan bertambah menjadi 80% pada umur 8 tahun”,begitulah uraiaan dari buku ‘Pengasahan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak’.dimana,proses pembentukan cara berfikir yang nanti menentukan mentalitasnya.sejarah mencatat pada saat itu seumuran anak kecil sekolah dasar/rakyat,Tan Malaka meninggalkan desa tempat lahirnya pergi menuntut ilmu ke ‘sekolah raja’ di Bukit Tinggi.walaupun masih dalam alam Minangkabau tapi alam asalnya adalah Nagari Pandan Gadang. Dan sewaktu ia tamat belajar di Bukit tinggi ia lantas diberi gelar Datuk Tan Malaka oleh kaum dan sukunya,sebagai kepala adat mereka.baginya yang masih berusia remaja itu pemberian gelar yang begitu tinggi,tentu hal ini berkaitan erat dengan ilmu yang diperolehnya dari rantaunya,dan itu sekaligus membenarkan serta memperkuat visi struktur pengalamannya diatas.[6]sehingga pada perkembangannya nanti,didikan adat dan falsafah Minangkabau yang religius ini,menjadikannya seorang intelektual yang kritis terhadap para pemikir besar Barat yang memberikan ilham padanya tentang nilai-nilai komunisme, sehingga walaupun demikian, ia menjadi pribadi yang tak mudah terpengaruh ataupun mengikuti cara berfikir salah satu dari para pemikir tersebut.[7]dengan titik tolak dari pemikiranya yakni visi atau perspektif minangkabau membekas dalam karya karya tulisnya,terutama dalam karya terbaiknya Madilog.
Begitulah peran dari kata kata adat dalam nilai nilai minang,nilai sosial budayanya begitu kuat hingga bisa membuat dan membentuk setiap cara berfikir anak minang,walau dalam usia relatif kecil.minangkabau dengan sejuta pepatah,pepitih,mamangan yang merupakan falsafah minangkabau digambarkan secara detail tetapi falsafah minangkabau itu mempunyai pengertian,yakni usaha menemukan orientasi hidup yang dapat memberi arah dan pegangan perilaku, serta perbuatan anggota masyarakat Minangkabau. Dengan melihat nenek moyang orang Minangkabau hidup di alam, melihat gejala alam dan belajar dari alam. Orientasinya berguru kepada alam semesta.
Rantau; proses belajar adat minang
Dalam lintasan sejarahnya,Tan Malaka akhirnya pergi merantau kembali guna melanjutan studinya,kali ini ke negeri Belanda. Perantauan yang sangat jauh bagi seorang anak muda yang baru berumur 16 tahun.walaupun landasan struktur pengalamannya relatif sama,namun ruang lingkup alamnya lambat laun berubah dari Nagari Pandan Gadang yang kecil menjadi alam minangkabau dan kemudian indonesia.dengan lain perkataan.visi adat dan falsafah Minangkabau yang dimilikiya di kembangkan untuk memahami permasalahan-permasalahan masyarakat indonesia.
Visi adat dan falsafah Minangkabau di atas menuntut kepada warganya, terutama si perantau, untuk mengkontraskan atau membandingkan dunia rantaunya dengan realita alam asalnya, karena dengan jalan begitulah dia akan mampu melihat mana yang baik dan mana yang buruk dari keduanya.jadi, rantau ini adalah fungsionalisasi dari “pendidikan seumur hidup” dalam konteks adat minang,dimana belajar tidak mesti terinferensiasikan dalam pelbagai bentuk kelembagaan belajar tetapi dalam rantau mempunyai pandangan yang luas guna sebagi modal dalam membina kecerdasan.tidak sampai pada tahap itu,makna yang dapat diambil adalah yang pergi merantau itu diharapkan dan ditunggu kedatangannya lagi, jadi bukan merantau cina[8].
Terkait dengan itu,jika kita kaji kembali dalam sisi psikologis,dimana pada konsepsi ’pembentukan karakter’ yakni karakter terutama dalam perkembangan otak yang berimbas pada pola berfikir seseorang itu ternyata dibentuk 50% pada masa umur 4 tahun dan bertambah menjadi 80% pada umur 8 tahun serta baru merangkak mencapai kesempurnaan hingga ia berumur 18 tahun dengan isi pengalaman kini yang diserap ialah Pengalaman masa lampau dan masa sekarang dalam suatu lingkungan sosial tertentu dan sebagai produk proses belajar secara kontinu sebagai rujukan kembali untuk mencoba menghayati Tan Malaka.
Jadi,Tan Malaka lewat konsep rantaunya ke belanda pada umur 16 tahun,dalam hal ini ia sesungguhnya sedang melewati periode yang amat penting bagi hidupnya,dimana periode ini merupakan klimaks dari periode periode perkembangan sebelumnya,dalam hal ini struktur dan pengalamannya sebagai orang minang.kemudian dalam periode ini apa yang diperoleh dalam masa masa sebelumnya diuji dan dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya,individu telah mempunyai suatu pola pribadi yang lebih mantap.periode ini disebut juga dengan periode pamantapan identitas diri.pengertiannya akan ’siapa aku’ yang dipengaruhi oleh pandangan dengan orang orang sekitarnya serta pengalaman pengalaman pribadinya akan menentukan pola prilakunya sebagai orang dewasa[9].dalam kaitan Tan Malaka,ialah dimana ia nanti bertemu dengan teori teori revolusioner seperi sosialisme,marxisme,dll di belanda,yang membuat dia tambah dewasa hingga memunculkan sebuah keprihatinan terdalam mengenai tempat lahirnya(indonesia) hingga klimaksnya lahirlah Madilog yakni saripati dari cara berfikirnya;thesis-antithesis-synthetis.
kemudian,selagi ia proses menyelesaikan studinya dia sempat diminta Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) mewakili Indische Vereeniging dalam kongres pemuda Indonesia dan pelajar Indologie di Kota Deventer. Melalui interaksi dengan mahasiswa Indonesia dan Belanda, dia semakin yakin bahwa melalui jalan revolusi, Indonesia harus bebas dari penjajahan Belanda. Ia membangun ideologinya dalam perjalanan panjang dari Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api Trans-Siberia melalui gurun es hingga Vladivostok di Timur, terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Canton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya dan Burma. Melihat fenomena ini yakni Tan Malaka–sesungguhnya ia telah mempunyai ideal dan tujuan yang ingin di capainya atau telah masuk kedalam pemetaan kejiwaan yang ketiga.dimana.karena pada pernyataan sejarah diatas sudah dirasakan bagaimana nilai nilai yang ingin dicapainya (tujuan hidup) dan sisi juga sisi idealitasnya(cita-cita) pada sekitaran tahun 1911-1946.(baca:Madilog).dan dalam proses pembentukan karakter,gambaran psikis yang terjadi pada Tan Malaka pada periode ini secara umum adalah perode umur umur pemantapan diri.dimana,pengaruh sebaya sudah banyak berkurang sehingga ia bisa berfikir dan memutuskan berdasarkan kehendak sendiri.ia mulai belajar berbagai peranan yang sudah menetap seperti laki-laki dewasa ataupun wanita dewasa.
Madilog telah mempresentasikan secara filosofis dan logis pemikiran Tan Malaka serta refleksi dalam ranah ke-Indonesia-an tujuan mulia dan cita cita agungnya. Tan Malaka menyimpulkan dengan tegas bahwa masyarakat Indonesia dari dahulu sampai sekarang masih dalam terkungkung yang ia sebut sebagai “riwayat pebudakan”. Dalam melihat fenomena yang terjadi terhadap bangsa Indonesia, pemikiran Tan Malaka tidak hanya menurut kultur penyebabnya melainkan sekaligus menunjuk bagaimana bangsa Indonesia bisa keluar dari penjajahan nasional. Menurutnya, hakikat penyebabnya adalah kungkungan sistem kapitalis-kolonialis-feodalis. Terkait dengan itu,ada dua masalah bangsa Indonesia yang menjadi pokok pemikiran Tan Malaka yaitu mengapa bangsa Indonesia dijajah begitu lama dan bagaimana cara hidup mandiri sebagai bangsa setelah mengusir penjajah, juga bagaimana mengusirnya. Analisis Tan Malaka tidak hanya berhenti pada sistem kolonialisme ekonomi yang mencengkram Indonesia, tetapi juga sistem feodalisme yang telah lebih dahulu menjajah mental bangsa. Feodalisme telah melahirkan dan menyuburkan mental budak yang takut berpikir, pasif, dan menyerah pada nasib. Mental semacam ini memudahkan mereka percaya terhadap tahayul dan dimanipulasi oleh orang-orang pintar dan rasional.
Oleh karena itu yang harus dilakukan tidak hanya revolusi fisik nasional namun juga revolusi cara berpikir. Kombinasi yang dihasilkan oleh Tan Malaka adalah visi kenegaraannya dalam ideologi massa dan strategi politik yang kontekstual. Madilog mengajak dan memperkenalkan cara berpikir ilmiah kepada bangsa Indonesia, bukan secara kajiaan atau hapalan, bukan pula dogmatis dan doktriner.
Walaupun Tan Malaka mengakui bahwa cara berfikir baru yang diperkenalkannya ini banyak berasal dari dunia barat yang rasionil, logis dan Marxist-Leninist.dan Mrazek,sekali lagi menyatakan bahwa pada dasarnya pemikiran tersebut berasal dari visi yang lahir dari struktur pengalamannya yang sudah lama terbentuk oleh ada falsafah Minangkabau.memang,Tan Malaka dalam bukunya MADILOG_Tan Malaka mengakui bahwa ia senang sekali memakai terminologi Marxist-Leninist dalam karya karyanya.tetapi, hal yang selalu ditekankannya berulang kalli adalah ”kekuatan ude (the power of ideas) sebagai perangsang perubahan sosial,bukan dinamis dari pertentangan kelas”[10]
Disamping itu, konsep konsep yang dilontarkannya mempunyai pengertian sendiri yang berbeda dengan apa yang lazim dimengerti orang di Barat.konsep tentang Matrealisme,umpamanya, tidak identik dengan dengan pengertian yang biasanya berlaku di Barat. Bagi Tan Malaka, Matrealisme adalah ”cara berfikir” yang realistis,pragmatis dan fleksibel.orang yang berfikir dengan matrelisme ini terutama memusatkan perhatiannya pada apa yang dekat dengannya, apa yang mempengaruhi kehidupannya secara langsung orang yang begitu melandaskan kegiatan atau hasil karya berdasarkan serangkaian bukti yang nyata, yang sudah dialami dan dapat dicek.barangkali,secara kasar pengetian matrealisme Tan Malaka ialah cara berfikir yang terpusat pada masalah bagaiamana memperbaiki atau merubah kehidupan duniawi secara realistis dan pragmatis.
Setelah kita membaca penjelasan diatas.jadi memang,konsep rantau sangatlah begitu penting dalam adat minang,bukan hanya seperti arti kata merantau mempunyai berbagai pengertian seperti berlayar, mencari penghidupan di sepanjang rantau (dari sungai kesungai). Merantau juga berarti pergi ke pantai atau pesisir, pergi ke negeri lain untuk mencari penghidupan. Dari sekian arti kata merantau maka yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pergi ke negeri lain untuk mencari kehidupan (long life’s education).sehingga dalam perantauan tersebut bisa membentuk pola pribadi yang lebih mantap dengan mengambil hikmah hikmah yang berserakan untuk digunakan sebagai modal membina kecerdasan dan kesejahteraan jika kita pulang kembali.
dan dibawah ini adalah mamangan untuk ‘rantau’ dalam adat minang,agar kita bisa menjalani hidup seperti biasa”
mencarikan punggung tak basaoks
mencarikan paruik tak berisi
Dirantau orang harus pandai-pandai menyesuaikan diri, mamak ditinggalkan di kampung, dapati pula mamak di rantau, saudara ditinggalkan, cari pula saudara di rantau
KESIMPULAN
Setelah mengikuti uraian diatas yang berdasarkan kajian psikologis.kiranya dalam dua pertanyaan yang dikemukakan tadi di bagian pendahuluan tulisan ini,dapat diberikan jawaban sebagai berikut:
- Dalam proses pembentukan kepribadian Tan Malaka seperti yang telah dijelaskan diatas,terdapat beberapa check point dalam pembentukan karakternya,yang merujuk pada konsepsi ’pembentukan karakter’ diatas.pada umur 4 sampai dengan 7 tahun dalam proses pembentukan awal karakter Tan Malaka,Tan Malaka ter-infulence dengan falsafah Adat dan nilai nilai adat bagi anak minang,yang selalu di pupuk matang matang guna hingga meresapi ke setiap darah anak minang.kemudian dalam proses pembukaan cakrawala atau pandangan Tan Malaka itu yang menambah struktur pengalamannya ialah ketika ia merantau untuk melanjutkan sekolah dan kembali lagi setelah selesai pendidikan guru hingga ia mendapatkan gelar Datuk Tan Malaka.kemudian,kembali merantau lagi dengan skala rantau nasional yakni ke Belanda (Hureem).disini proses pembentukan karakter Tan Malaka,saya menyimpulkan pada proses ini ia mencapai mendekati 100% dari konsep pembentukan Karakter Tan Malaka.dimana,ia bertemu dengan teori revolusioner seperti Marxist-Leninist,Sosialisme dll,yang hal tersebut digunakan sebagai instrumen untuk merubah tatanan kehidupan dan cara berfikir kehidupan di nusantara (indonesia) yang pada saat itu cukup memperhatinkan hingga lahirlah Madilog,yang mewakili segala bentuk keprihatinan,gagasan,tujuan hidup seorang Tan Malaka. Jadi,secara umum bentuk ke khas-an dari Tan Malaka dari sisi karakteristik,melihat dari konsepsi ’pembentukan karakter’ ialah penggambaran seorang pejuang atau patriot dengan nilai religiusitas yang tinggi dengan pandangan atau gagasan revolusioner.singkat kata,Tan Malaka adalah pejuang Revolusioner.
- Terdapat beberapa poin-poin dalam pengalaman yang bisa kita ambil.Pertama,kata kata adat.kata kata adat dalam alam minangkabau sangat berpengaruh dalam berbagai aspek hingga bisa membuat dan membentuk setiap cara berfikir anak minang,walau dalam usia relatif kecil.minangkabau dengan sejuta pepatah,pepitih,mamangan yang merupakan falsafah minangkabau digambarkan secara detail tetapi falsafah minangkabau itu mempunyai pengertian,yakni usaha menemukan orientasi hidup yang dapat memberi arah dan pegangan perilaku, serta perbuatan anggota masyarakat Minangkabau.Kedua,ialah Rantau. rantau sangatlah begitu penting dalam adat minang,karena dalam rantau itu,kita bisa membentuk pola pribadi yang lebih mantap dengan mengambil hikmah hikmah yang berserakan untuk digunakan sebagai modal membina kecerdasan dan kesejahteraan jika kita pulang kembali.Ketiga,ialah Alam sebagai sumber inspirasi, karena ketika proses merintis menyusun adat, mereka mengambil kenyataan yang ada pada alam sebagai sumber analogi bagi nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur kehidupan mereka. Mereka mengungkapkan hal ini dalam perumusan yang dianggap mereka sebagai kebenaran “alam takambang jadi guru” (alam terkembang jadi guru). Hukum alam menjadi sumber inspirasi yang dijadikan pedoman untuk merumuskan nilai-nilai dasar bagi norma-norma yang menuntun mereka dalam berfikir dan berbuat. Disamping belajar dari alam, pengalaman hidup yang dapat dijadikan pula pegangan, bahwa manusia harus belajar dari pengalamannya. Belajar dari alam dan pengalaman merupakan orientasi berfikir yang dominan dalam masyarakat Minangkabau.dan terakhir,ialah Agama Islam.Kedatangan agama islam yang mengemukakan manusia itu makhluk tuhan dan dijadikan khalifah dimuka bumi untuk menjadi lebih dahulu memberikan makna dan nilai yang tinggi terhadap hidup. Dengan kata lain agama telah memperkokoh pandangan terhadap hidup yang telah dipunyai oleh adat sebelumnya. Nilai hidup yang lebih baik dan tinggi ini telah menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi, dinamis dan kreatif.
[1] Penulis dan pemerhati sejarah
[2]http://www.blogcatalog.com/blog/adat-dan-budaya-minangkabau/80928d8fa02933f143ca8b97524ef670 [diunduh jam 22.00 WIB tgl 29 mei 2010]
[3] Kartini Kartono, Psikologi Perkembangan (Bandung:Mandar Maju,19990).hal. 25
[4] Tim penyusun (2007).Pengasahan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak.tersedia [On Line] http://www.mardiya.wordpress.com/2009/12/16/buku-pengayaan-4/ [3 April 2010]
[5] Irwanto,dkk Psikologi umum;buku panduan mahasiswa, (Jakarta:PT.GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA,1991) hal. 39
[6] Taufik Abdullah, Manusia dalam Kemelut Sejarah, (Jakarta: LP3ES, 1983), hal.140
[7] Taufik Abdullah,ibid hal. 144.
[8] http://palantaminang.wordpress.com/sejarah-alam-minangkabau/b-alam-minangkabau/ [diunduh jam 22.24 WIB tg 29 Mei 2010]
[9] Irwanto,Dkk ibid, hal 47-48
[10] Taufik Adi Susilo, Tan Malaka Biografi Singkat, (Jogjakarta: Garasi , 2008), hal. 77
DAFTAR PUSTAKA
• Abdullah, Taufik. Manusia dalam Kemelut Sejarah. Jakarta: LP3ES, 1983.
• Adi Susilo,Taufik. Tan Malaka Biografi Singkat. Jogjakarta : Garasi, 2008
• Ankersmit,Refleksi tentang Sejarah¬;pendapat pendapat modern tentang filsafat sejarah. Jakarta: Gramedia,1984
• Irwanto,dkk Psikologi umum; buku panduan mahasiswa.Jakarta: PT.GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA,1991
• Kartini Kartono, Psikologi Perkembangan. Bandung:Mandar Maju,1990
• Malaka,tan. Tan Malaka_MADILOG. Jakarta: PT. Teplok Press, 2000
• Poeze,Harry. Pergulatan Menuju Republik, Jakarta : Grafiti Pres, 1988
internet
http://www.blogcatalog.com/blog/adat-dan-budaya-minangkabau/80928d8fa02933f143ca8b97524ef670 [diunduh jam 22.00 WIB tgl 29 mei 2010]
Tim penyusun (2007).Pengasahan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak.tersedia [On Line] http://www.mardiya.wordpress.com/2009/12/16/buku-pengayaan-4/ [3 April 2010]
http://palantaminang.wordpress.com/sejarah-alam-minangkabau/b-alam-minangkabau/ [diunduh jam 22.24 WIB tg 29 Mei 2010]
Oleh
Qalbi Nur Nawawi[1]
ABSTRACT
“Akuilah dengan putih bersih bahwa kamu (orang Indonesia) sanggup dan mesti belajar dari Barat, tapi kamu jangan jadi peniru Barat, melainkan sekarang murid dari Timur yang cerdas … juga jangan dilupakan bahwa kamu belum seorang murid, bahkan manusia, bila kamu tidak ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri … seseorang yang ingin jadi murid Barat atau manusia, hendaknya ingin merdeka dengan memiliki senjata Barat yang rasional”. (Tan Malaka dalam Madilog)
PENDAHULUAN
Petikan pernyataan diatas merupakan satu pesan Tan Malaka yang ia amanatkan lewat pemikiran Madilognya.dimana,jika setiap kita bisa menghayati pesannya,kau akan merasakan bagaiamana pesan itu melintasi batas ruang dan waktu hingga tak sadar pesan itu masih mempunyai relevansi sampai saat ini. Yang seolah olah lewat pernyataan diatas,ia membisikkan di setiap telinga kiri kita yakni ”sahabatku,jadilah manusia Indonesia yang cerdas, kritis dan berani untuk belajar menerima pengetahuan-pengetahuan Barat yang mengandalkan logika.tetapi ingat, jangan sampai kita terpengaruh atau terpedaya oleh pemikiran yang luar biasa besar pengaruhnya hingga kita kehilangan jati diri pemikiran kita yang rasional,sesuai realita yang ada di masyarakat kita”.begitulah pesannya,satu hal yang membuat Tan Malaka menjadi sosok yang legendaris.
Tan Malaka jika dilihat dari riwayatnya sebagai seorang pemikir,Tan Malaka adalah seorang pemikir hebat yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. dikenal sebagai tokoh yang paling misterius disepanjang sejarah Indonesia dan juga revolusioner. Banyak kegiatan politiknya, di dalam dan luar negeri, hanya diketahui secara samar.
Tetapi disini, Terkait dengan penjelasan diatas.pada kajian ini, pendalaman kajian bukanlah memahami bagaimana perkembangan pemikiran atau sejarah pemikiran Tan Malaka tetapi disini ialah mencoba mendalami dan menghayati sosok Tan Malaka dari sisi kejiwaannya lewat disiplin ilmu psikologi hingga membentuk cara berfikirnya yang khas itu,lebih dalam lagi mentalitas-karakternya.walau kedua hal tersebut,antara pemikiran dan mentalitas tidak bisa dipisah kan begitu saja. sebagaimana menyadur kata Mrazek, bahwa struktur pengalaman memberikan visi tertentu bagi seseorang tentang bagaiamana melihat dan mengartikan apa apa yang berlaku. Jadi semakin jelaslah bahwa bentuk bentuk atau kepingan kepingan dari struktur pengalaman itulah ingin coba dirangkai,dibentuk disini hingga menggambarkan sesuatu yang khas dari karakter Tan Malaka.
dan hal tersebut akan coba dikaji dengan pendekatan Narativisme,suatu pengkajian sejarah dengan menafsirkan masa silam dengan menunjukan keberkaitan dalam suatu materi (bahasa) yang semula kelihatan tidak koheren dan tanpa struktur hingga terlukiskan sifat sifat yang khas bagi suatu kurun waktu tertentu(ankersmith:225).jadi bisa kita ambil sedikit gambaran bahwa dalam kajian ini,bukan semata mata untuk mencoba berusaha berkhayal,mendikte ataupun memberikan a judgement tertentu untuk menggambarkan kejiwaan Tan Malaka tetapi bagaimana disini,kita ingin memahami guna bisa menghayati bagaimana kejiwaan Tan Malaka yang legendaris itu sebagai bahan refleksi pemuda pemuda indonesia.
Dan untuk mengetahui dan memahami hal tersebut kita harus memahami adat Minangkabau itu sendiri seperti nilai,norma dll.disini,memahami nilai-nilai dasar adat Minangkabau adalah tantangan tersendiri dalam hal ini karena memang tak mudah.meskipun begitu,tentunya terdapat berbagai cara dapat memahami hal tersebut, antara lain dengan mempelajari tentang masyarakat dan lingkungan atau dengan mempelajari perilaku mereka. Terlebih dahulu mereka mempelajari kata-kata (kato), dari sini akan dapat diungkapkan nilai-nilai dasar dan norma-norma yang menjadi penuntun orang Minangkabau berfikir dan bertingkah laku. Dengan kata lain perkataan pola berfikir dan prilaku orang Minangkabau, ditentukan oleh “kato” sebagai nilai dasar norma-norma yang menjadi pegangan hidup mereka, katakanlah falsafah hidup, yang menyangkut makna hidup, makna waktu, makna alam bagi kehidupan, makna kerja bagi kehidupan dan makna individu dalam hubungan kemasyarakatan.
Bertitik tolak dari pemikiran di atas, kata-kata (kato) seperti yang terkandung dan terungkap dalam prinsip-prinsip dasar atau rumusan-rumusan kebenaran, pepatah, petitih, pituah, mamangan dan lain-lain ekspedisi simbolik tentang diri mereka dalam hubungan dengan alam, dengan lingkungan sosial budaya, merupakan media yang dapat dipakai dalam mengetahui dan memahami nilai-nilai yang dominan yang dianut mereka. Dikatakan “manusia tahan kato (kias) binatang tahan palu (cambuk). Jadi merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal, kita bisa memahami bentuk karakter yang khas yang ada dalam diri Tan Malaka.dimana,kebiasaan dari individu dan masyarakat (custome) dapat membentuk tatanan kelakuan (behaviour) kemudian menjadi budaya (culture).[2]dalam hal ini ialah Tan Malaka dengan adat Minangkabau-nya. Dan disini pembahasan kali hanya berkisar pada ‘kata’,’pepatah’,’petuah’ yang substansial saja,khususnya bagi Tan Malaka.
Dan sebagai formula untuk memetakan bagaimana sisi kejiwaan Tan Malaka,dibawah ini adalah sebuah konsepsi dimana sebelum kita masuk pada sebuah bentuk eksistensi diri dan cara berfikir yang khas pada diri Tan Malaka yang kita harus paham ketiga konsep ini,yakni sbb:
1) Segenap kualitas herediter (warisan sejak lahir,bawaan)
2) Pengalaman masa lampau dan masa sekarang dalam suatu lingkungan sosial tertentu dan sebagai produk proses belajar secara kontinu.
3) Oleh ideal dan tujuan yang ingin di capainya.[3]
Ditambah ,memahami konsep pembentukan karakter ialah karakter terutama dalam perkembangan otak yang berimbas pada pola berfikir seseorang itu ternyata dibentuk 50% pada masa umur 4 tahun dan bertambah menjadi 80% pada umur 8 tahun serta baru merangkak mencapai kesempurnaan hingga ia berumur 18 tahun[4].
Maka pesan utama yang menjadi benang merah yang ingin digambarkan ialah jika kita bisa memahami sosok Tan Malaka dari tiga konsepsi itu secara simultan dan merujuk juga pada konsep ’pembentukan karakter’ diatas jadi tak berlebihan rasanya jika kita bisa menggambarkan sosok Tan Malaka secara keseluruhan lewat sisi kejiwaannya.
Setelah membaca penjelasan diatas.jelas,kajian ini akan mengarah pada ’apa yang terjadi’ dan ’bagaimana terjadi’ pembentukan cara berfikirnya,lebih dalam lagi mentalitas-karakternya.Lebih khusus,dijelaskan lewat bentuk dengan dua pertanyaan pokok yang hendak dijawab,walaupun tidak mendalam,yakni sbb:
1) Apa konteks psikis-historis yang melatarbelakangi terbentuknya karakter Tan Malaka sampai pada umur 20 tahun (1896-1911),merujuk pada konsep ’pembentukan karakter’ diatas +analisis?
2) Pengalaman atau warisan apa yang bisa diambil dari proses pembentukan karakter kejiwaan Tan Malaka?
PEMBAHASAN
Adalah Kata-kata Adat
“Hiduik Bajaso, Mati Bapusako” (hidup berjasa, mati berpusaka)”,Petikan kutipan itu,merupakan tujuan umum bagaimana seorang anak minang menjalani hidupnya,yakni untuk berjasa.hal ini selalu ditanamkan anak anak minang dari kecil hingga memahami benar tujuan dari nilai nilai adatnya yakni membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya, manusia yang beradab dan bermanfaat.Dari manusia-manusia yang beradab itu diharapkan akan melahirkan suatu masyarakat yang aman dan damai, sehingga memungkinkan suatu kehidupan yang sejahtera dan bahagia, dunia dan akhirat.
kemudian,dengan pepatah ”Hiduik Baraka, baukue jo bajangka artinya hidup berpikir, berukur dan berjangka”.dimana,dalam menjalankan hidup dan kehidupan orang Minang dituntut untuk selalu memakai akalnya. Berukur dan berjangka artinya harus mempunyai rencana yang jelas dan perkiraan yang tepat.ditambah ,dengan struktur sosial Minangkabau memberi tanggungjawab yang berat kepada orang laki-laki Minangkabau, sehingga mendorong lebih lanjut untuk berusaha memenuhi tuntutan agar berjasa kepada kerabat dan kampung halamannya.kemudian,dengan apa semua itu dipenuhi,adat minangkabau menjelaskan semua itu dengan merantau.
Merantau,akibat merantau bagi orang minangkabau yang meninggalkan kampung halaman,adalah proses meluaskan cakrawala atau pandangannya untuk mengenal daerah diluar Minangkabau, seperti di katakan “tidak seperti katak di bawah tempurung”. Akibatnya orang minangkabau tidak berpaham sempit dalam hubungan sosial dengan lain suku bangsa. Hasil perantauan pada masa dahulu dibawa pulang untuk menjadi modal dalam membina kecerdasan dan kesejahteraan keluarga,begitulah nilai nilai adat minang menjelaskan.
Setelah membaca penjelasan diatas.jadi,itulah gambaran umum yang merupakan bagaimana orang minang mengajarkan budi pekerti sejak kecil. Tentunya,jika kita coba kaitkan dengan Tan Malaka,hal ini juga dirasakan dengan Tan Malaka sebagai anak minang yang pada saat terbilang cukup cerdas akan pemahaman kata kata adat bagi dirinya hingga mendarah daging bagi dirinya.
Psikologi modern saat ini sepakat bahwa faktor bawaan dan lingkungan mempunyai pengaruh yang sama besarnya pada perkembangan individu,dimana perkembangan adalah transaksi antara diri individu dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya[5].kemudian,jika kita merujuk pada konsepsi ’pembentukan karakter’ yakni perkembangan otak yang berimbas atau mempengaruhi pada cara pola berfikir seseorang itu ternyata dibentuk 50% pada masa umur 4-7 tahun dengan isi pengalaman yang diserap ialah segenap kualitas herediter (warisan sejak lahir,bawaan) yang ia dapati dari ranah informal.jadi kita bisa membayangkan bagaiamana kehidupan kejiwaan Tan Malaka pada saat ‘kecil’ dulu,dimana ia selalu diberi asupan asupan gizi mengenai nilai nilai adat minang yang kental religiusitasnya dan juga suntikan dosis tinggi mengenai pandangan hidup bagi seorang anak minang.
“Dan dan bertambah menjadi 80% pada umur 8 tahun”,begitulah uraiaan dari buku ‘Pengasahan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak’.dimana,proses pembentukan cara berfikir yang nanti menentukan mentalitasnya.sejarah mencatat pada saat itu seumuran anak kecil sekolah dasar/rakyat,Tan Malaka meninggalkan desa tempat lahirnya pergi menuntut ilmu ke ‘sekolah raja’ di Bukit Tinggi.walaupun masih dalam alam Minangkabau tapi alam asalnya adalah Nagari Pandan Gadang. Dan sewaktu ia tamat belajar di Bukit tinggi ia lantas diberi gelar Datuk Tan Malaka oleh kaum dan sukunya,sebagai kepala adat mereka.baginya yang masih berusia remaja itu pemberian gelar yang begitu tinggi,tentu hal ini berkaitan erat dengan ilmu yang diperolehnya dari rantaunya,dan itu sekaligus membenarkan serta memperkuat visi struktur pengalamannya diatas.[6]sehingga pada perkembangannya nanti,didikan adat dan falsafah Minangkabau yang religius ini,menjadikannya seorang intelektual yang kritis terhadap para pemikir besar Barat yang memberikan ilham padanya tentang nilai-nilai komunisme, sehingga walaupun demikian, ia menjadi pribadi yang tak mudah terpengaruh ataupun mengikuti cara berfikir salah satu dari para pemikir tersebut.[7]dengan titik tolak dari pemikiranya yakni visi atau perspektif minangkabau membekas dalam karya karya tulisnya,terutama dalam karya terbaiknya Madilog.
Begitulah peran dari kata kata adat dalam nilai nilai minang,nilai sosial budayanya begitu kuat hingga bisa membuat dan membentuk setiap cara berfikir anak minang,walau dalam usia relatif kecil.minangkabau dengan sejuta pepatah,pepitih,mamangan yang merupakan falsafah minangkabau digambarkan secara detail tetapi falsafah minangkabau itu mempunyai pengertian,yakni usaha menemukan orientasi hidup yang dapat memberi arah dan pegangan perilaku, serta perbuatan anggota masyarakat Minangkabau. Dengan melihat nenek moyang orang Minangkabau hidup di alam, melihat gejala alam dan belajar dari alam. Orientasinya berguru kepada alam semesta.
Rantau; proses belajar adat minang
Dalam lintasan sejarahnya,Tan Malaka akhirnya pergi merantau kembali guna melanjutan studinya,kali ini ke negeri Belanda. Perantauan yang sangat jauh bagi seorang anak muda yang baru berumur 16 tahun.walaupun landasan struktur pengalamannya relatif sama,namun ruang lingkup alamnya lambat laun berubah dari Nagari Pandan Gadang yang kecil menjadi alam minangkabau dan kemudian indonesia.dengan lain perkataan.visi adat dan falsafah Minangkabau yang dimilikiya di kembangkan untuk memahami permasalahan-permasalahan masyarakat indonesia.
Visi adat dan falsafah Minangkabau di atas menuntut kepada warganya, terutama si perantau, untuk mengkontraskan atau membandingkan dunia rantaunya dengan realita alam asalnya, karena dengan jalan begitulah dia akan mampu melihat mana yang baik dan mana yang buruk dari keduanya.jadi, rantau ini adalah fungsionalisasi dari “pendidikan seumur hidup” dalam konteks adat minang,dimana belajar tidak mesti terinferensiasikan dalam pelbagai bentuk kelembagaan belajar tetapi dalam rantau mempunyai pandangan yang luas guna sebagi modal dalam membina kecerdasan.tidak sampai pada tahap itu,makna yang dapat diambil adalah yang pergi merantau itu diharapkan dan ditunggu kedatangannya lagi, jadi bukan merantau cina[8].
Terkait dengan itu,jika kita kaji kembali dalam sisi psikologis,dimana pada konsepsi ’pembentukan karakter’ yakni karakter terutama dalam perkembangan otak yang berimbas pada pola berfikir seseorang itu ternyata dibentuk 50% pada masa umur 4 tahun dan bertambah menjadi 80% pada umur 8 tahun serta baru merangkak mencapai kesempurnaan hingga ia berumur 18 tahun dengan isi pengalaman kini yang diserap ialah Pengalaman masa lampau dan masa sekarang dalam suatu lingkungan sosial tertentu dan sebagai produk proses belajar secara kontinu sebagai rujukan kembali untuk mencoba menghayati Tan Malaka.
Jadi,Tan Malaka lewat konsep rantaunya ke belanda pada umur 16 tahun,dalam hal ini ia sesungguhnya sedang melewati periode yang amat penting bagi hidupnya,dimana periode ini merupakan klimaks dari periode periode perkembangan sebelumnya,dalam hal ini struktur dan pengalamannya sebagai orang minang.kemudian dalam periode ini apa yang diperoleh dalam masa masa sebelumnya diuji dan dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya,individu telah mempunyai suatu pola pribadi yang lebih mantap.periode ini disebut juga dengan periode pamantapan identitas diri.pengertiannya akan ’siapa aku’ yang dipengaruhi oleh pandangan dengan orang orang sekitarnya serta pengalaman pengalaman pribadinya akan menentukan pola prilakunya sebagai orang dewasa[9].dalam kaitan Tan Malaka,ialah dimana ia nanti bertemu dengan teori teori revolusioner seperi sosialisme,marxisme,dll di belanda,yang membuat dia tambah dewasa hingga memunculkan sebuah keprihatinan terdalam mengenai tempat lahirnya(indonesia) hingga klimaksnya lahirlah Madilog yakni saripati dari cara berfikirnya;thesis-antithesis-synthetis.
kemudian,selagi ia proses menyelesaikan studinya dia sempat diminta Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) mewakili Indische Vereeniging dalam kongres pemuda Indonesia dan pelajar Indologie di Kota Deventer. Melalui interaksi dengan mahasiswa Indonesia dan Belanda, dia semakin yakin bahwa melalui jalan revolusi, Indonesia harus bebas dari penjajahan Belanda. Ia membangun ideologinya dalam perjalanan panjang dari Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik kereta api Trans-Siberia melalui gurun es hingga Vladivostok di Timur, terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Canton, Bangkok, Singapura, Semenanjung Malaya dan Burma. Melihat fenomena ini yakni Tan Malaka–sesungguhnya ia telah mempunyai ideal dan tujuan yang ingin di capainya atau telah masuk kedalam pemetaan kejiwaan yang ketiga.dimana.karena pada pernyataan sejarah diatas sudah dirasakan bagaimana nilai nilai yang ingin dicapainya (tujuan hidup) dan sisi juga sisi idealitasnya(cita-cita) pada sekitaran tahun 1911-1946.(baca:Madilog).dan dalam proses pembentukan karakter,gambaran psikis yang terjadi pada Tan Malaka pada periode ini secara umum adalah perode umur umur pemantapan diri.dimana,pengaruh sebaya sudah banyak berkurang sehingga ia bisa berfikir dan memutuskan berdasarkan kehendak sendiri.ia mulai belajar berbagai peranan yang sudah menetap seperti laki-laki dewasa ataupun wanita dewasa.
Madilog telah mempresentasikan secara filosofis dan logis pemikiran Tan Malaka serta refleksi dalam ranah ke-Indonesia-an tujuan mulia dan cita cita agungnya. Tan Malaka menyimpulkan dengan tegas bahwa masyarakat Indonesia dari dahulu sampai sekarang masih dalam terkungkung yang ia sebut sebagai “riwayat pebudakan”. Dalam melihat fenomena yang terjadi terhadap bangsa Indonesia, pemikiran Tan Malaka tidak hanya menurut kultur penyebabnya melainkan sekaligus menunjuk bagaimana bangsa Indonesia bisa keluar dari penjajahan nasional. Menurutnya, hakikat penyebabnya adalah kungkungan sistem kapitalis-kolonialis-feodalis. Terkait dengan itu,ada dua masalah bangsa Indonesia yang menjadi pokok pemikiran Tan Malaka yaitu mengapa bangsa Indonesia dijajah begitu lama dan bagaimana cara hidup mandiri sebagai bangsa setelah mengusir penjajah, juga bagaimana mengusirnya. Analisis Tan Malaka tidak hanya berhenti pada sistem kolonialisme ekonomi yang mencengkram Indonesia, tetapi juga sistem feodalisme yang telah lebih dahulu menjajah mental bangsa. Feodalisme telah melahirkan dan menyuburkan mental budak yang takut berpikir, pasif, dan menyerah pada nasib. Mental semacam ini memudahkan mereka percaya terhadap tahayul dan dimanipulasi oleh orang-orang pintar dan rasional.
Oleh karena itu yang harus dilakukan tidak hanya revolusi fisik nasional namun juga revolusi cara berpikir. Kombinasi yang dihasilkan oleh Tan Malaka adalah visi kenegaraannya dalam ideologi massa dan strategi politik yang kontekstual. Madilog mengajak dan memperkenalkan cara berpikir ilmiah kepada bangsa Indonesia, bukan secara kajiaan atau hapalan, bukan pula dogmatis dan doktriner.
Walaupun Tan Malaka mengakui bahwa cara berfikir baru yang diperkenalkannya ini banyak berasal dari dunia barat yang rasionil, logis dan Marxist-Leninist.dan Mrazek,sekali lagi menyatakan bahwa pada dasarnya pemikiran tersebut berasal dari visi yang lahir dari struktur pengalamannya yang sudah lama terbentuk oleh ada falsafah Minangkabau.memang,Tan Malaka dalam bukunya MADILOG_Tan Malaka mengakui bahwa ia senang sekali memakai terminologi Marxist-Leninist dalam karya karyanya.tetapi, hal yang selalu ditekankannya berulang kalli adalah ”kekuatan ude (the power of ideas) sebagai perangsang perubahan sosial,bukan dinamis dari pertentangan kelas”[10]
Disamping itu, konsep konsep yang dilontarkannya mempunyai pengertian sendiri yang berbeda dengan apa yang lazim dimengerti orang di Barat.konsep tentang Matrealisme,umpamanya, tidak identik dengan dengan pengertian yang biasanya berlaku di Barat. Bagi Tan Malaka, Matrealisme adalah ”cara berfikir” yang realistis,pragmatis dan fleksibel.orang yang berfikir dengan matrelisme ini terutama memusatkan perhatiannya pada apa yang dekat dengannya, apa yang mempengaruhi kehidupannya secara langsung orang yang begitu melandaskan kegiatan atau hasil karya berdasarkan serangkaian bukti yang nyata, yang sudah dialami dan dapat dicek.barangkali,secara kasar pengetian matrealisme Tan Malaka ialah cara berfikir yang terpusat pada masalah bagaiamana memperbaiki atau merubah kehidupan duniawi secara realistis dan pragmatis.
Setelah kita membaca penjelasan diatas.jadi memang,konsep rantau sangatlah begitu penting dalam adat minang,bukan hanya seperti arti kata merantau mempunyai berbagai pengertian seperti berlayar, mencari penghidupan di sepanjang rantau (dari sungai kesungai). Merantau juga berarti pergi ke pantai atau pesisir, pergi ke negeri lain untuk mencari penghidupan. Dari sekian arti kata merantau maka yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pergi ke negeri lain untuk mencari kehidupan (long life’s education).sehingga dalam perantauan tersebut bisa membentuk pola pribadi yang lebih mantap dengan mengambil hikmah hikmah yang berserakan untuk digunakan sebagai modal membina kecerdasan dan kesejahteraan jika kita pulang kembali.
dan dibawah ini adalah mamangan untuk ‘rantau’ dalam adat minang,agar kita bisa menjalani hidup seperti biasa”
mencarikan punggung tak basaoks
mencarikan paruik tak berisi
Dirantau orang harus pandai-pandai menyesuaikan diri, mamak ditinggalkan di kampung, dapati pula mamak di rantau, saudara ditinggalkan, cari pula saudara di rantau
KESIMPULAN
Setelah mengikuti uraian diatas yang berdasarkan kajian psikologis.kiranya dalam dua pertanyaan yang dikemukakan tadi di bagian pendahuluan tulisan ini,dapat diberikan jawaban sebagai berikut:
1. Dalam proses pembentukan kepribadian Tan Malaka seperti yang telah dijelaskan diatas,terdapat beberapa check point dalam pembentukan karakternya,yang merujuk pada konsepsi ’pembentukan karakter’ diatas.pada umur 4 sampai dengan 7 tahun dalam proses pembentukan awal karakter Tan Malaka,Tan Malaka ter-infulence dengan falsafah Adat dan nilai nilai adat bagi anak minang,yang selalu di pupuk matang matang guna hingga meresapi ke setiap darah anak minang.kemudian dalam proses pembukaan cakrawala atau pandangan Tan Malaka itu yang menambah struktur pengalamannya ialah ketika ia merantau untuk melanjutkan sekolah dan kembali lagi setelah selesai pendidikan guru hingga ia mendapatkan gelar Datuk Tan Malaka.kemudian,kembali merantau lagi dengan skala rantau nasional yakni ke Belanda (Hureem).disini proses pembentukan karakter Tan Malaka,saya menyimpulkan pada proses ini ia mencapai mendekati 100% dari konsep pembentukan Karakter Tan Malaka.dimana,ia bertemu dengan teori revolusioner seperti Marxist-Leninist,Sosialisme dll,yang hal tersebut digunakan sebagai instrumen untuk merubah tatanan kehidupan dan cara berfikir kehidupan di nusantara (indonesia) yang pada saat itu cukup memperhatinkan hingga lahirlah Madilog,yang mewakili segala bentuk keprihatinan,gagasan,tujuan hidup seorang Tan Malaka. Jadi,secara umum bentuk ke khas-an dari Tan Malaka dari sisi karakteristik,melihat dari konsepsi ’pembentukan karakter’ ialah penggambaran seorang pejuang atau patriot dengan nilai religiusitas yang tinggi dengan pandangan atau gagasan revolusioner.singkat kata,Tan Malaka adalah pejuang Revolusioner.
2. Terdapat beberapa poin-poin dalam pengalaman yang bisa kita ambil.Pertama,kata kata adat.kata kata adat dalam alam minangkabau sangat berpengaruh dalam berbagai aspek hingga bisa membuat dan membentuk setiap cara berfikir anak minang,walau dalam usia relatif kecil.minangkabau dengan sejuta pepatah,pepitih,mamangan yang merupakan falsafah minangkabau digambarkan secara detail tetapi falsafah minangkabau itu mempunyai pengertian,yakni usaha menemukan orientasi hidup yang dapat memberi arah dan pegangan perilaku, serta perbuatan anggota masyarakat Minangkabau.Kedua,ialah Rantau. rantau sangatlah begitu penting dalam adat minang,karena dalam rantau itu,kita bisa membentuk pola pribadi yang lebih mantap dengan mengambil hikmah hikmah yang berserakan untuk digunakan sebagai modal membina kecerdasan dan kesejahteraan jika kita pulang kembali.Ketiga,ialah Alam sebagai sumber inspirasi, karena ketika proses merintis menyusun adat, mereka mengambil kenyataan yang ada pada alam sebagai sumber analogi bagi nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur kehidupan mereka. Mereka mengungkapkan hal ini dalam perumusan yang dianggap mereka sebagai kebenaran “alam takambang jadi guru” (alam terkembang jadi guru). Hukum alam menjadi sumber inspirasi yang dijadikan pedoman untuk merumuskan nilai-nilai dasar bagi norma-norma yang menuntun mereka dalam berfikir dan berbuat. Disamping belajar dari alam, pengalaman hidup yang dapat dijadikan pula pegangan, bahwa manusia harus belajar dari pengalamannya. Belajar dari alam dan pengalaman merupakan orientasi berfikir yang dominan dalam masyarakat Minangkabau.dan terakhir,ialah Agama Islam.Kedatangan agama islam yang mengemukakan manusia itu makhluk tuhan dan dijadikan khalifah dimuka bumi untuk menjadi lebih dahulu memberikan makna dan nilai yang tinggi terhadap hidup. Dengan kata lain agama telah memperkokoh pandangan terhadap hidup yang telah dipunyai oleh adat sebelumnya. Nilai hidup yang lebih baik dan tinggi ini telah menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi, dinamis dan kreatif.
[1] Mahasiswa jurusan Pend.Sejarah 2007.Paper ini dibuat sebagai UAS Filsafat Sejarah,
[2]http://www.blogcatalog.com/blog/adat-dan-budaya-minangkabau/80928d8fa02933f143ca8b97524ef670 [diunduh jam 22.00 WIB tgl 29 mei 2010]
[3] Kartini Kartono, Psikologi Perkembangan (Bandung:Mandar Maju,19990).hal. 25
[4] Tim penyusun (2007).Pengasahan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak.tersedia [On Line] http://www.mardiya.wordpress.com/2009/12/16/buku-pengayaan-4/ [3 April 2010]
[5] Irwanto,dkk Psikologi umum;buku panduan mahasiswa, (Jakarta:PT.GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA,1991) hal. 39
[6] Taufik Abdullah, Manusia dalam Kemelut Sejarah, (Jakarta: LP3ES, 1983), hal.140
[7] Taufik Abdullah,ibid hal. 144.
[8] http://palantaminang.wordpress.com/sejarah-alam-minangkabau/b-alam-minangkabau/ [diunduh jam 22.24 WIB tg 29 Mei 2010]
[9] Irwanto,Dkk ibid, hal 47-48
[10] Taufik Adi Susilo, Tan Malaka Biografi Singkat, (Jogjakarta: Garasi , 2008), hal. 77
[...] MELINTAS BATAS;TAN MALAKA DAN JIWANYA [...]
Terima kasih sudah memakai tulisan saya untuk ‘entry’ ini. Mohon ijin meletakkan
link asli tulisan saya di sini ya :http://qalbinur.wordpress.com/2010/06/11/melintas-batastan-malaka-dan-jiwanya/